
Redaksi detikFinance, kebanjiran beberapa komentar dan masukan pembaca soal masalah kemacetan dan antrean panjang di tol khususnya di dalam kota dan sekitaranya. Misalnya Djoko Antono warga Bekasi, menuturkan jika masalah kemacetan ini bisa diatasi maka sangat signifikan menekan konsumsi BBM, waktu, produktivitas, efisiensi, tingkat stres masyarakat dan lain-lain
"Penyebabnya adalah karena adanya beberapa Pintu Utama tempat untuk melakukan transaksi pembayaran atau pengambilan ticet masuk yang jika dihitung secara matematis pada saat jam sibuk antara frekuensi jumlah kendaraan yang datang dengan waktu yang dibutuhkan petugas pintu tol untuk melayani transaksi pembayaran atau memberikan tiket masuk tidak seimbang," kata Djoko seperti dikutip dari surat elektroniknya, Selasa (20/3/2012)
Menurut Djoko hal itu lah yang membuat jumlah kendaraan akan semakin menumpuk antri di pintu utama yang setiap harinya pada jam kerja dapat di lihat dari pagi hari maupun sore petang hari di pintu utama Tol. Ia mencatat antara lain di pintu gerbang Balaraja, Karangtengah, Tomang, Halim, Cikarang, Cibubur, Cawang/TMII.
"Antrean tersebut setiap hari dapat mencapai 'belasan kilometer," katanya.
Ia menyarankan agar pintu gerbang utama khususnya untuk gerbang utama yang berada di tengah yaitu di antara gerbang awal sampai dengan akhir dihapus atau dibuka saja. Misalnya ia mengilustrasikan jalan Tol dari Merak-Jakarta-Bandung atau Cikampek atau Bogor sudah tersambung menjadi satu kesatuan yang tidak terputus.
"Pengguna jalan Tol dari arah Merak menuju ke Cikampek hanya mengambil tiket di pintu masuk gerbang Merak dan dapat langsung keluar membayar transaksi keluar di pintu keluar gerbang Cikampek, tanpa harus berulang kali untuk antri di pintu Tol untuk membayar/ambil tiket masuk di pintu utama Balaraja, Karangtengah, Tomang, Cikarang," katanya.
Usulan lain datang dari Dian Wahyudi, menurutnya untuk masalah antrian tol sebaiknya diberlakukan sistem FIFO (First in First Out) jadi di bikin tiga loket antrian yang memanjang, tiga atau empat memanjang horizontal dan 3 vertikal.
"Mungkin ini bisa mengurangi antrean kemacetan yang dialami dan diharapkan kepada petugas Jasa marga agar membuka jalan semua loket antriannya di pagi hari, begitu juga di sore hari ketika jam pulang kantor," kata Dian.
Sementara itu James Sunarto, juga mengatakan ia termasuk salah satu pengguna jalan tol yang harus stres karena antrean panjang di pintu tol. Misalnya pintu tol Ancol dekat kawasan Hailai Ancol yang menuju ke arah bandara Soekarno-Hatta. Antrean menyebabkan kemacetan hingga ke Jalan Gunung Sahari dan setiap hari panjangnya bisa sampai ke Mall Mangga Dua Square.
"Mohon disampaikan ya, agar semua operator ini jangan melulu bisanya meminta kenaikan tarif tanpa mengerti apa artinya 'service level' yang memadai kepada kita selaku pengguna jalan tol," kata James.
James menambahkan, selain loket yang tidak dibuka semua, kemacetan juga ditambah dengan adanya flyover yang sangat berdekatan dengan pintu tol sehingga mobil yang akan masuk ke tol memotong mobil yang turun dari flyover.
Pengguna tol lainnya bernama Jayusman mengaku justru curiga dengan adanya dugaan praktik tidak sehat yang dilakukan oleh oknum petugas pintu tol. Ia mengaku kerap mendapati banyak pintu tol yang tak dioperasikan (bertanda X) namun petugas masih menerima proses masuknya mobil dan menerima pembayaran.
"Apakah betul kalo kita bayar atau masuk di pintu tol dengan tanda lampu X (merah) itu petugas tol lagi cari duit untuk bagi-bagi untuk satu crew kerjanya. Saya sering banget melihat ada antrian pembayaran di pintu tol yang lampunya X (merah) menyala dan itu tidak terhitung / ter counter pembayarannya oleh systems. Kalau memang benar ternyata memang 'Korupsi' di mana-mana dan sangat terang-terangan," katanya.
Itu sebagian kecil pembaca yang menyampaikan keluhan dan sarannya soal kemacetan di pintu dan jalan tol. Bagaimana menurut anda?







0 komentar:
Posting Komentar